Berita

Tujuan dan Kekuatan Teori Birokrasi

Tujuan dan Kekuatan Teori Birokrasi

Tujuan dan Kekuatan Teori Birokrasi

Tujuan Teori Birokrasi

Berdasarkan buku-buku bacaan yang berkaitan dengan teori birokrasi, tidak ada satu buku pun yang secara khusus menyebutkan tentang tujuan teori birokrasi. Namun, tujuan dari teori ini dapat ditemukan dari beberapa deskripsi buku yang digunakan sebagai bahan referensi.

Padahal, birokrasi dirancang untuk bekerja dengan baik (Hall, 1999). Menurut J. Hage (1980), sementara itu birokrasi dibentuk untuk menciptakan efisiensi dan keandalan. Dari kedua sumber tersebut dapat dikatakan bahwa tujuan utama dari teori birokrasi adalah agar suatu organisasi menjadi lebih efisien dan agar segala urusan pekerjaan dalam organisasi dapat berjalan dengan lancar dan lancar. Karakteristik atau struktur birokrasi yang diusung Weber sebenarnya telah mencapai organisasi yang lebih efisien dan sistematis. Adanya sistem pengendalian, yaitu aturan yang ditetapkan dimaksudkan untuk mengendalikan seluruh struktur dan proses organisasi; pengendalian ini juga memerlukan pengetahuan teknis untuk mencapai efisiensi maksimum (Mouzelis, 1967).

Tujuan dibuatnya sistem hierarkis dalam organisasi birokrasi adalah untuk membangun sistem komando yang terorganisir. Dengan hierarki ini, semua rencana dapat dikonsolidasikan dan sentralisasi pengambilan keputusan dapat dilakukan. Demikian pula untuk spesialisasi fungsi, dengan spesialisasi masing-masing jabatan dalam organisasi dapat menjalankan fungsinya masing-masing. Kedua langkah tersebut bertujuan untuk menghindari adanya tumpang tindih yurisdiksi satu sama lain. Sedangkan untuk perlakuan terhadap pegawai, teori birokrasi memiliki pendekatan yang tidak dipengaruhi oleh perasaan dan bersifat pribadi (impersonal); tujuannya adalah untuk menghabiskan karyawan hanya menghabiskan waktu dan mengurangi pekerjaan yang dilakukan secara acak dan tidak konsisten. Pendekatan ini untuk memastikan bahwa setiap karyawan diperlakukan dan diperlakukan sama (Sims et al., 1995).

 

Kekuatan Teori Birokrasi

Teori birokrasi ini memiliki kekuatan tersendiri, walaupun teori ini sering dikaitkan dengan berbagai stereotip negatif, namun teori birokrasi ini juga memberikan kontribusi yang besar terhadap teori dalam manajemen sumber daya manusia. Menurut Kettner (2002) ada tiga pertimbangan yang diperhitungkan dalam teori birokrasi, yang pertama adalah akuntabilitas, yang kedua adalah hierarki dan definisi tanggung jawab, sedangkan yang ketiga adalah persiapan kerja. Semua instrumen ini merupakan kekuatan teori ini, dan itulah yang membedakannya dengan teori organisasi lainnya.

Akuntabilitas merupakan identitas dalam birokrasi. Salah satu faktor yang menyebabkan suatu organisasi memilih struktur birokrasi ini adalah mengidentifikasi tanggung jawab dalam proses pengambilan keputusan secara lebih akurat. Itulah sebabnya organisasi pemerintah seringkali membutuhkan struktur birokrasi ini karena tanggung jawab proses pengambilan keputusan sangat penting. Jika dipertimbangkan dalam model teori organisasi lainnya, model teori ini juga dapat memberikan kondisi yang lebih untuk organisasi kerja yang fleksibel dan produktivitas, tetapi dalam organisasi yang membutuhkan akuntabilitas tinggi dalam pengambilan keputusan, birokrasi adalah pilihan yang lebih praktis.

 

Hierarki dan Tanggung Jawab Birokrasi

Alat kedua, hierarki dan definisi tanggung jawab, merupakan fitur penting dari birokrasi untuk membantu mengelola tempat kerja yang terorganisir. Sketsa utama dari semua tugas harus jelas dan disusun dalam bentuk hierarkis. Dengan hierarki dan spesifikasi pekerjaan ini dapat memberikan kekuatan organisasi birokrasi karena dapat memperkuat lingkup kekuasaan yang ada di departemen, program, unit kecil dan untuk setiap pegawai itu sendiri. Keuntungan lain di sini adalah bahwa setiap karyawan sangat jelas dan mengetahui pekerjaan dan tugas sehari-hari yang harus dia lakukan, tanpa harus bergantung pada instruksi untuk dapat melakukan tugas orang lain. Misalnya, di sini seorang karyawan yang sudah mengetahui tugas yang harus dia lakukan dapat melanjutkan pekerjaan rutinnya tanpa harus berulang kali memberi tahu atasannya atau ditanya tentang pekerjaan apa yang harus dia lakukan lagi.

 

Penyediaan Untuk Kerja Birokrasi

Bagi instrumen ketiga iaitu penyediaan untuk kerja, Weber menyokong idea yang dikemukakan oleh Frederick W. Taylor bahawa untuk memastikan kecekapan organisasi, penyediaan untuk kerja mestilah berdasarkan kelayakan untuk penempatan pekerjaan di dalam organisasi. Dalam hal ini, sudah menjadi kebiasaan dalam bidang perkhidmatan sosial seseorang pekerja akan diberikan posisi dalam organisasi berdasarkan pendidikan profesional yang diterima oleh mereka, disamping pengalaman yang pernah mereka lalui dalam jangka masa tempoh tertentu. Hal inilah yang mejadi kekuatan kepada teori birokrasi ini kerana organisasi birokrasi mengamalkan kaedah pemilihan pekerja yang benar-benar layak untuk bekerja di organisasinya dan tujuan utamanya ialah untuk mencapai kecekapan dalam melaksanakan tugas. Kejayaan sesebuah organisasi atau agensi pada hari ini adalah dibantu oleh kesedaran mengenai proses pembuatan analisis kerja secara teliti dan berhati-hati yang dapat menyediakan rangka kerja untuk memutuskan penempatan kerja seseorang pekerja. Keputusan penempatan kerja itu juga seharusnya adalah penyediaan kerja yang dapat dibuktikan dan bukannya data yang hanya berdasarkan gambaran umum semata-mata tanpa perincian.

Sumber Rangkuman Terlengkap : https://www.Materi.Co.Id/